Home > Islam > Sahur Ala Rasulullah

Sahur Ala Rasulullah


Sahur adalah makan pada akhir malam yang merupakan sunnah Nabi. Sahur dilakukan ketika seseorang berniat untuk berpuasa, terutama ketika puasa Ramadhan, sahur sangat ditekankan oleh Rasulullah agar dijalankan.

Hikmah Sahur

Mungkin ada sebagian yang belum tahu bahwa hikmah sahur adalah sebagai pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli Kitab. Gak percaya?

Dari Amr bin ‘Ash ra. bahwasanya Rasulullah bersabda: “Pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli kitab adalah makan sahur”. (HR. Muslim)

Padahal menurut hadits lain,

Dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka.” Riwayat Abu Dawud.

Nah, jika gak mau disamain sama Ahli Kitab, jangan pernah meremehkan sahur walaupun dengan seteguk air. Tapi kalo ketiduran ya ga pa-pa tapi eman gak dapet barokah sahur.

Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam makan sahur itu ada berkahnya.” Muttafaq Alaihi.

Apa barokah terbesar dari sahur? Insya Allah barokah terbesar dari sahur adalah Allah meliputi orang-orang yang sahur dengan ampunan-Nya, memenuhi mereka dengan rahmat-Nya, malaikat-malaikat Allah memintakan ampunan bagi mereka, berdo’a kepada Allah agar memaafkan mereka, agar mereka termasuk orang-orang yang dibebaskan oleh Allah di bulan Ramadhan.

Firman Allah: “Dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran 17)

Dari Abu Said Al-Khudri ra. Berkata, Rasulullah bersabda: “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kamu meninggalkannya walapun hanya seteguk air, karena Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Syaibah).

Wow!! ternyata barokah sahur banyak banget, keren-keren, dan yang pastinya usefull banget buat bekal di akhirat, jarang-jarang ibadah cuman makan doank, tapi barokahnya gede banget. Allahu Akbar. Islam memang Rahmatan lil ‘Alamin.. :D

Mengakhirkan Sahur

Bagi sebagian anak muda, malam hari adalah waktunya untuk memulai aktivitas, entah itu mulai dari ngerjain PR, tugas kuliah, skripsi  sampai namatin game terbaru. Sehingga tidak jarang waktu malam mereka, mereka habiskan dengan begadang. Dan normalnya pemikiran anak muda, pasti maunya yang serba cepat aka efisien. Akhirnya, sekalian begadang mereka mendahulukan sahur sebelum saat yang dianjurkan. Dan tak jarang pula setelah sahur mereka tertidur pulas, karena memang ketika seseorang begadang, pukul 3-4 pagi adalah waktu dimana rasa kantuk mulai menyerang dengan hebat. Dan musibah terbesar adalah tertidur hingga meninggalkan shalat Shubuh tepat waktu dengan berjamaah. Naudzubillah….

Lalu kapankah waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk makan sahur? Menurut sebuah hadits,

Hadits riwayat Zaid bin Tsabit ra., ia berkata: Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah saw. Kemudian kami melaksanakan shalat. Kemudian saya bertanya: Berapa lamakah waktu antara keduanya (antara makan sahur dengan salat)? Rasulullah saw. menjawab: Selama bacaan lima puluh ayat. (Shahih Muslim)

Berapa lama bacaan lima puluh ayat itu?? Mungkin ketika Imsyak itu kali ya…. (saya juga gak pernah ngitung :p).

Adapun manfaat mengakhirkan sahur bagi tubuh kita adalah dapat mengurangi rasa lapar dan haus sehingga pada siang hari kita tidak terlalu kepayahan baik dalam melakukan aktifitas rutin maupun ibadah kepada Allah.

Rasulullah saw. bersabda: “Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang ” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati, untuk itu hendaknya kita telah berhenti dari makan dan minum beberapa menit sebelum terbit fajar, agar kita tidak ragu-ragu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur . ” (HR. Al-Bukhari, I\luslim dan At-Tirmidz)

Akhir waktu sahur

Ketika kita sahur, hendaknya kita mengetahui batas akhir sahur kita, ini hal yang amat krusial dalam bidang per-puasa-an, karena apabila telah tiba fajar shodiq sedangkan kita masih enak-enakan makan, bisa-bisa puasa kita jadi batal. Saat ini, keyakinan yang beredar di kebanyakan masyarakat umum bahwa batas waktu sahur adalah ketika Imsyak. Hal ini kurang tepat karena waktu dimulainya puasa adalah ketika fajar mulai terbit yaitu ketika adzan shubuh berkumandang.

Firman Allah, “Makan dan minumlah hingga jelas begimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” (al-Baqarah: 187)

Dalam hal ini terdapat riwayat al-Bara’ dari Nabi saw..

Adi bin Hatim r.a. berkata, “Ketika turun ayat, ‘Sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam; saya sengaja mengambil tali hitam dan tali putih. Saya letakkan di bawah bantalku dan saya lihat (sebagian) malam hari, maka tidak jelas bagiku. Keesokan harinya saya datang kepada Rasulullah dan saya ceritakan hal itu kepada beliau. Maka, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya bantalmu itu terlalu panjang kalau benang putih dan benang hitam itu di bawah bantalmu!’ (Dan dalam satu riwayat beliau bersabda, ‘Sesungguhnya lehermu terlalu panjang untuk melihat kedua benang itu.’ Kemudian beliau bersabda, Tidak demikian), sesungguhnya yang dimaksud adalah hitamnya malam dan putihnya siang hari.'”

Sahl bin Sa’ad berkata, “Diturunkan ayat, ‘wakuluu wasyrabuu hattaa yatabayyana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi’ ‘Makan dan minumlah sehingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam;’ dan belum turun lafal, ‘minal fajri.’ Maka, orang yang bermaksud hendak puasa mengikatkan benang putih dan benang hitam di kakinya. Ia senantiasa makan sehingga jelas kelihatan baginya kedua macam benang itu. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, ‘minal fajri ‘yaitu fajar’,’ barulah mereka tahu bahwa yang dimaksudkan adalah malam dan siang.”

Dalam hadits lain,

Sabda Nabi, “Janganlah menghalang-halangi sahurmu azan yang diucapkan Bilal.”

Ibnu Umar dan Aisyah r.a. mengatakan bahwa Bilal biasa berazan pada malam hari. Maka, Rasulullah bersabda, “Makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan azan. Karena Ibnu Ummi Maktum tidak berazan sebelum terbit fajar.” Al-Qasim berkata, “Antara azan keduanya tidak ada sesuatu (peristiwa) melainkan yang ini naik, dan yang itu turun.”

Namun sahur sendiri bukanlah suatu hal yang diwajibkan Namun bukan berarti hal yang disepelekan apalagi ditinggalkan. Yang pengen dapet barokah sahur monggo, dan bagi yang merasa udah aman dari api neraka dan gak pengen sahur juga monggo… :D

Wallahu ‘Alam
Semoga bermanfaat…

Categories: Islam Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: