Archive

Archive for the ‘Renungan’ Category

Kalo Parkir Bayar Donk!!!

January 27, 2010 6 comments

Hari ini seperti biasa ba’da maghrib saya pergi ke taklim di masjid Al Ghifari Griya Shanta. Biasanya sih kalo hari Rabu gini yang mengisi taklim 99% pasti Ust. Abdullah Hadrami. Pas sampai di masjid, saya markir “Rukia” dulu, ternyata si penjaga parkir kasih karcis parkir, ada tulisannya, “infaq Rp 1000!”. Wew, mau gak mau sekarang musti bayar nih (ketauan kalo biasanya gak mau bayar :p) Saya pun jadi gelisah, bukan gelisah karena mikiran gimana caranya buat ngakalain biar gak usah bayar parkir, tapi saya gelisah mikirin saat itu lagi bawa uang apa kagak. Saya cek dompet saya (ya iya lah, masak mau ngecek dompet tetangga :p) yup! ternyata bener, tidak ada duit di dompet. Ciloko! Mau rogoh2 celana gak mungkin, soalnya saya pake sarung. :p Trus saya coba cari di saku jaket. Taraaa!! ternyata ada duitnya! fiuh…. lega rasanya.

Nah, pas selesai taklim ini nih biasanya ada sesi tanya jawab. Dan pertanyaan biasanya di tulis di kertas jadi yang lain gak tau siapa yang tanya. Pertanyaannya gini nih,
“Bagaimana menurut ustad, masjid yang menarik bayaran parkir dengan ditentukan nominalnya, misalnya seribu…”
GERRR sontak jamaah pada heboh.. Saya? cukup senyum-senyum sendiri. πŸ˜€ Dan dijawab oleh sang ustadz, “Seribu? kurang itu.”
Hya hahaha… semua pada ketawa. πŸ˜€ Lanjut sang Ustadz, “seribu itu wajar, kecuali kalo sejuta, nah itu gak boleh.” ya iyalah… hehe..

Saya sendiri setuju dengan jawaban sang Ustadz, seribu itu jumlah yang kecil. Kita kalau parkir di tempat lain biasanya juga di tarik seribu. Bahkan pas kita berhenti sejenak di tepi jalan beli cendol atau bakso sambil mata tetep mantengin motor, masih aja ada tukang parkir yang tega narik bayaran, tapi kita fine-fine aja.
Apalagi kalo parkir di masjid? Ya harus bayar donk. Udah di jagain biar ibadahnya khusyuk. Masak gak mau bayar? Sungguh terlalu……

Emang bener quote yang-entah-tak-tau-asalnya-dari-siapa itu, “begitu ringan rasanya membelanjakan uang 100rb di supermarket, namun begitu berat rasanya menginfaqkan uang 100rb di masjid.”
Semoga kita diberikan kemudahan oleh Alloh untuk bisa beramal dengan ikhlas. Amin. πŸ™‚

Advertisements
Categories: Renungan Tags:

Innalillahi , Sebuah Kisah Menakjubkan Seorang Muallaf Debater Forum

May 23, 2009 3 comments

Berita ini gw dapet secara tidak sengaja ketika lagi morum di Indoforum.org

Gw copas aja langsung di sini

Assalamualaikum ,

di sini saya akan membagi cerita nyata seorang debater forum debat yang meninggal pada tanggal 30 Maret 2009 :

Quote:Originally Posted by cippie
assalamu’alaikum wr.wb

inalillahi wa ina lillahi rajiun
telah berpulang kerahmatullah teman ‘FC’ (Fight Club Kas*kus) kita, hartawan sinaga aka kontosyesul,aka kestolyonus, aka kentulyosol aka kontrolyesrul aka konsosyetul, dll (saya tidak ingat clonnya apa saja)

tanggal 30 maret 2009, ba’da isya
di NTB

sebagai info, Hartawan Sinaga sudah mengganti namanya menjadi Muhammad Bilal menjelang meninggalnya (saya lupa tepatnya kapan).

demikian info saja, mohon maaf jika terlambat memberi kabar..

saya cuma meneruskan amanahnya, semoga jika ada kesalahan yang di perbuatnya selama ‘hidup’ di dunia maya kepada teman-teman, semua bisa mengikhlaskan dengan memberi maaf

terima kasih

wassalamu’alaikum wrwb

informasi dari akhi didit :

Quote:Originally Posted by dietzyassin
semoga hal yang baik-baik saja yang teringat dan keikhlasan dari kita untuk memaafkan, aamin.

terima kasih buat semua, makasih juga buat cippie udah buatin threadnya,

fyi:
dia meninggal bukan karena sakit, karena beberapa hari sebelumnya sempet joging dan diving bareng saya di senggigi. Habis shalat isya (begitu mau berdiri) terus jatuh dan langsung meninggal.. begitu saja, sangat simpel dan sederhana.

saya sungguh ‘iri’ dengan caranya di panggil…

semoga khusnul khatimah..
aamin.

satu hal yang sampai sekarang ucapannya terngiang dibenak saya

“kadang kala di tempat paling bangsat terkutuk-pun kau pun bisa menemukan hidayah…”

(almarhum mengatakan FC saat itu sebagai tempat bangsat terkutuk, karena disanalah dia pernah menghujat agama, nabi, dan tuhan dengan membabi buta)

akhir kata, semoga para ‘rival’ memaafkan ‘keteledorannya’ dan kesalahanya selama ini.

wassalamu’alaikum wrwb

terimakasih
didit

Semoga ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita semua , singkatnya beliau adalah seorang kafir bernama Hartawan Sinaga , kerjaannya setiap hari di forum debat adalah menghina semua agama dan Tuhan…

tapi dia aktif bertanya di thread “Anda bertanya Muslim menjawab”

dan akhirnya dia menjadi seorang Muallaf dan mengganti namanya menjadi Muhammad Bilal…

dan akhirnya ajal pun menjemputnya ketika Shalat Isya…

selamat jalan bung Bilal , semoga semua rekan2 debatmu memaafkan semua dosamu semasa hidup , dan semoga meninggalmua Khusnul Khotimah ndi bawah Naungan Shalat Isya…

Subhanallah…
Illaa Hadorotin Nabiu Musthofa Muhammad SAW wa ilaa hadarotin Muhammad Bilal….

Sekian berita duka dari saya…

Wassalamualaikum Wr.Wb

Categories: Renungan

[Vid]Sebuah Ajakan Untuk Para Gamers Agar Tidak Melalaikan Sholat

Iklan khusus buat para gamer nih.
Nge-game boleh-boleh aja, tapi kalo adzan jangan lupa datang ke masjid untuk menunaikan kewajiban sholat wajib 5 waktu.

Categories: Renungan

Gaji Papa Berapa?

November 1, 2008 Leave a comment

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya. Nampaknya IA sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika IA pulang Dan baru terjaga ketika IA akan berangkat ke kantor pagi Hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”

“Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja” ucap Sarah singkat.

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap Hari Papa bekerja sekitar 10 jam Dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 Hari kerja.

Sabtu Dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu bulan berapa, hayo ?”

Sarah berlari mengambil kertas Dan pensilnya dari meja belajar sementara Papanya melepas sepatu Dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. “Kalo satu Hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji Rp. 40.000,- dong” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur” perintah Andrew Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian, Sarah kembali bertanya, “Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?”

“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini ? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah”.

“Tapi Papa…”

Kesabaran Andrew pun habis. “Papa bilang tidur !” hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring Dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata, “Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp. 5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih” jawab Andrew

“Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini”.

“lya, iya, tapi buat apa ?” tanya Andrew lembut.

“Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.

Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya Ada Rp. 15.000,- tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000, makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Sarah polos.
Andrew pun terdiam. IA kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

Fie Ling

Categories: Renungan Tags: ,

Stop Complaining About Your Life!

September 16, 2008 3 comments

If you think you have huge tension, look at them…

If you think your job is tough, how about him

If you think your salary is low, how about her?

You think, study is a burden, how about her?

When you feel like giving up, think of this man..

If you think you suffer in life, do you suffer as much as he does?

If you complain about your transport system, how about them?

If your society is unfair to you, how about her?

Always ‘be positive’…… No Matter What!!!!

Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka?

Kita sering mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal

Masihkah Kita berfikir untuk membentak ibu kita?

Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat saat ini

From

%d bloggers like this: